GDP China Mengalahkan Ekspektasi Pasar

Broker Online | Forex | Trading Online | Bursa Forex

Broker online - Melemahnya konsumsi, permasalahan di sektor properti serta hambatan ekspor menjadi catatan tersendiri bagi aktifitas ekonomi China yang tengah bergulat dalam wabah Covid-19, namun laju pertumbuhan PDB di kuartal pertama menunjukkan laju yang lebih cepat dari perkiraan, di tengah prospek yang suram akibat kebijakan lockdown dan dampak perang Ukraina.

Krisis yang terjadi di Ukraina telah menimbulkan kerumitan bagi para pembuat kebijakan karena telah mengintensifkan pasokan dan tekanan biaya komoditas yang meningkatkan inflasi global secara tajam dan membuat otoritas China kesulitan untuk melangkah sebagai upaya mereka untuk merangsang laju pertumbuhan tanpa membahayakan stabilitas harga.

GAMBAR BROKER ONLINE

National Bureau of Statistics melaporkan data PDB China yang meningkat sebesar 4.8% di kuartal pertama dari periode yang sama di tahun sebelumnya, yang mana angka ini mengalahkan ekspektasi kenaikan sebesar 4.45 dari para analis dan mencatat kenaikan lebih tinggi dari pertumbuhan 4.0% di kuartal keempat tahun lalu.

Dalam dua bulan pertama di tahun ini, pertumbuhan ekonomi mencatat hasil yang secara mengejutkan lebih kuat dengan mencatat kenaikan PDB 1.3% di rentang Januari-Maret di tingkat kuartalan, lebih besar dari ekspektasi kenaikan 0.6% serta sedikit lebih besar dari kenaikan 1.5% yang direvisi pada kuartal sebelumnya.

Namun demikian meningkatnya risiko global dari perang di Ukraina, lockdown Covid-19 yang semakin luas serta lemahnya pasar properti telah menahan laju pertumbuhan negara ekonomi terbesar kedua dunia tersebut di tengah penilaian sejumlah analis yang mengatakan bahwa risiko terjadinya resesi semakin meningkat.

Data aktivitas Maret menunjukkan penjualan ritel berkontraksi pada bulan lalu di tingkat tahunan karena pembatasan COVID yang meluas di seluruh negeri, yang mana mencatat penurunan hingga sebesar 3.5% lebih buruk dari ekspektasi untuk penurunan 1.6% dan peningkatan 6.7% pada Januari dan Februari sedangkan konsumsi akhir menyumbang 69.4% dari pertumbuhan PDB China di kuartal pertama atau lebih rendah dari pencapaian sebesar 85.3% di kuartal keempat tahun lalu.

Kepala Ekonom dari Zhongyuan Bank, Wang Jun mengatakan bahwa bahkan jika pertumbuhan PDB Q1 lebih besar dari pertumbuhan 4.0% di Q4 tahun lalu maka hal itu masih jauh dari target tahunan China sebesar 5.5% yang mana laju pertumbuhan di bulan Maret sangat dipengaruhi oleh pembatasan pandemi yang tercermin dari konsumsi sektor jasa yang sangat terpukul.

Lebih lanjut Wang mengatakan bahwa kuartal kedua tahun ini akan mengalami tekanan yang lebih besar dan sejauh mana ekonomi kehilangan tenaganya akan sangat bergantung pada apakah China akan membuat penyesuaian yang fleksibel terhadap tindakan anti-virus mereka serta menawarkan dukungan yang lebih besar melalui kebijakan makro ekonominya.

Sektor industri bertahan lebih baik dari yang diharapkan dengan produksi meningkat 5.0% dari tahun sebelumnya, dibandingkan dengan perkiraan kenaikan 4.5% namun masih lebih rendah dari peningkatan 7.5% yang terlihat dalam dua bulan pertama tahun ini, sementara untuk investasi aset tetap mencatat kenaikan 9.3% di tingkat tahunan pada kuartal pertama, dari perkiraan peningkatan sebesar 8.5% dalam jajak pendapat Reuters, akan tetapi lebih kecil dibanding pertumbuhan 12.2% dalam dua bulan pertama di tahun ini.

Tekad pemerintah China untuk menghentikan penyebaran COVID-19, telah menghambat aktifitas di jalan raya dan pelabuhan sehingga membuat pekerja terdampar dan menutup banyak pabrik, yang menjadi gelombang hambatan melalui rantai pasokan global untuk barang-barang mulai dari kendaraan listri hingga iPhone.

Pada Jumat pekan kemarin pihak People’s Bank of China (PBOC) telah mengumumkan akan memotong jumlah uang tunai yang harus dipegang bank sebagai cadangan untuk pertama kalinya tahun ini, sekaligus melepaskan sekitar 530 miliar Yuan ($83.25 milliar) dalam likuiditas jangka panjang untuk meredam perlambatan tajam dalam pertumbuhan ekonomi.

Terkait akan hal ini Macro Sun selaku kepala analis pasar keuangan dari MUFG, mengatakan bahwa pihaknya melihat para pembuat kebijakan China akan mempercepat pengeluaran fiskal mereka dan lebih jauh melonggarkan kebijakan moneternya, yang berperluang membantu laju pertumbuhan PDB dan sekaligus juga berharap adanya penurunan suku bunga 10 basis poin terhadap LPR 1 tahun dalam waktu secepatnya.

Akan tetapi para analis merasa tidak yakin apakah penurunan suku bunga akan banyak membantu menahan kemerosotan ekonomi dalam waktu dekat karena pabrik dan bisnis masih berjuang dan konsumen tetap berhati-hati terhadap pengeluaran karena pelonggaran kebijakan yang lebih agresif dapat memicu arus modal keluar sehingga akan semakin memberikan lebih banyak tekanan terhadap pasar keuangan di dalam negeri China sendiri.

Target pertumbuhan ekonomi China telah ditetapkan lebih lambat, sekitar 5.5% di tahun seiring masih adanya sejumlah hambatan yang terjadi, namun demikian sejumlah analis menilai bahwa mungkin saat ini sulit untuk dicapai tanpa adanya langkah-langkah stimulus yang lebih agresif.

Untuk mengikuti rekomendasi harian, silahkan bergabung di account telegram CyberFutures @CFNewsJkt

PRODUCTS
RISK WARNING

Trading leveraged products such as Forex and CFDs may not be suitable for all investors as they carry a high degree of risk to your capital. Please ensure that you fully understand the risks involved, taking into account your investments objectives and level of experience, before trading, and if necessary seek independent advice

SOCIAL MEDIA